Bore gauge atau juga dikenal dengan Cylinder Gauge ialah alat ukur yang dipakai guna mengukur diameter silinder. di bagian atas terdapat dial gauge dan di bagian bawahnya terdapat measuring point yang bisa bergerak bebas. Dial gauge yang terletak di bagian atas bisa dilepas caranya yaitu longgarkan securing position dial gaugenya. Sedangkan ujung batang pengukur (measuring point) akan bergerak bila ditekan dan jarum pada dial gauge antara 0-2 mm akan bergerak dari harga standarnya.
di sisi lain terdapat replacement rod yang panjangnya beragam tergantung pada kebutuhan, yang dilengkapi dengan replacement securing thread merupakan semacam mur pengikat yang berfungsi untuk mengunci supaya replacement rod dan washernya tidak lepas ketika bore gauge digunakan.
Alat ukur yang digunakan untuk kalibrasi dan pengukuran awal adalah Jangka Sorong, Micrometer
PRINSIP KERJA CYLINDER BORE GAUGE
Berguna untuk mengukur garis tengah bagian dalam dari sebuah benda kerja, seperti : Cylinder, lubang dudukan poros dan lain-lain.
Syarat penggunaan cylinder bore gage replacement rod adalah 0,5mm sd 1mm lebih besar dari diameter cylinder yang di ukur, misal yang di ukur diameter standart adalah 72mm ( type mesin K3 ), maka replacement rod nya adalah 70 mm (yang tersedia) + dengan wahser 3mm = 73mm
![]() |
| Cylinder Bore Gauge |
Cara Menggunakan Bore Gauge :
- Ukur diameter silinder dengan memakai jangka sorong untuk mengetahui diameter secara kasar guna memilih rod end yang tepat untuk dipasangkan pada bore gauge (atau lihat ukuran standarnya pada maintenance standard), misal diperoleh hasil pengukuran : 72 mm.
- Pilih replacement rod yang panjangnya lebih besar dari hasil pengukuran tersebut misal 70 mm, + 3mm washer setelah itu pasang replacement rod pada bore gauge.
- Ukur panjang replacement rod dengan mikrometer luar dan usahakan jarum dial gauge tidak bergerak, misal diperolah hasil pengukuran 73 mm
- Masukan replacement rod kedalam lubang (cylinder), goyangkan tangkai bore gauge ke kanan dan ke kiri hingga di peroleh penyimpangan terbesar (posisi tegak lurus).
- Baca besarnya penyimpangan yang ditunjukan dial gauge, misal diperoleh 0,01 mm.
- Besarnya diameter cylinder yaitu selisih antara hasil pengukuran panjang replecement rod dengan besarnya penyimpangan jarum bore gauge. Jadi diameter cylinder = 72,01 - 0,01 = 72,00 mm. (Cylinder dikatakan normal, tidak oval)
Cara menentukan ke ovalan silinder :
- Mula – mula tentukan sumbu X dan sumbu Y dari silinder.
- Lalu bagi silinder menjadi 3 bagian yaitu bagian atas (TOP), bagian tengah (CENTER), dan bagian bawah (DEEP).
- setelah itu ukur sumbu X dan Y dari masing-masing bagian.
- Misalnya diperoleh hasil pengukuran bagian atas (TOP) cylinder sumbu X = 72.03 mm dan sumbu Y = 72.01 mm, maka keovalannya cylinder bagian atas adalah 72.03 – .72.01 mm = 0.02 mm.
- Lanjutkan pengukuran pada bagian tengah (CENTER) dan bagian Bawah (DEEP).
Cara menentukan ketirusan cylinder :
- Ketirusan merupakan selisih ukuran antara cylinder bagian atas dengan cylinder bagian bawah atau sebaliknya.
- Untuk menentukan ketirusan cylinder, dapat diambil dari keovalan masing-masing bagian pada TOP, CENTER dan DEEP silinder.
- Misalnya, keovalan cylinder bagian atas adalah 0.02 mm dan bagian bawah cylinder adalah 0.01 mm, maka ketirusannya adalah 0.02 – 0.01 mm = 0.01 mm.


0 Ulasan